• Setapak Demi Setapak,Jalan ini ku Lalui (1)

    Sekian lama, baru hari ini saya menyempatkan waktu untuk mengutak-atik blog ini. Beribu ide yang ada di kepala saya, belum sempat saya tuangkan kedalam tulisan. Hiihii. Banyak juga yang nyeletuk, "Thie, ngapain sih habis-habiskan waktu untuk nulis di blog? Kamu kan nggak pinter nulis.." Saya menjawabnya dengan tersenyum. Well, pada dasarnya saya nggak terlalu suka menulis. Saya paling susah untuk merangkai kata-kata ketika berhadapan dengan secarik kertas, ketika ujian mengarang dulu. Nilai saya nggak pernah sangat bagus ketika pelajaran bahasa Indonesia (apalagi bahasa Inggris). Tapi, semangat saya untuk terus belajar membuat saya keep on fight menghadapi semuanya. Saya ingin menceritakan sepenggal kisah hidup. Berangkali bisa menjadi motivasi atau sekedar bernostalgia dengan hal-hal yang pernah terjadi di masa lampau. Bukan kah kita hidup di masa sekarang, karena sesuatu yang telah terjadi di masa lalu? ;) Sejak SD saya mempunyai cita-cita yang sama.Menjadi seorang dosen. Yah, berangkali dipengaruhi oleh pekerjaan kedua orang tua saya. Saya sangat menyukai dunia akademisi. Proses belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat, terasa sangat menyenangkan bagi saya. Hingga ketika lulus SMA, seorang sahabat bertanya kepada saya. "Ethie, kamu mau menjadi apa kuliah di FKM?". Ketika itu saya langsung menjawab. Setelah sarjana, saya akan lanjut S2. Saya ingin menjadi dosen. Sahabat saya itu hanya tertawa terbahak-bahak. Tapi tekad saya kala itu sudah bulat. Saya masih ingin sekolah lagi, dan suatu saat saya akan mengabdikan ilmu ini kepada semuanya. Saya selesai pendidikan sarjana bulan Juli 2010 dan kemudian diwisuda di bulan September tahun yang sama. Kami menyebutnya September Ceria. Sebagian besar teman-teman saya sudah selesai di bulan ini. Alhamdulillah, saya lulus dengan IPK Cum Laude, meskipun bukan sebagai wisudawan terbaik. Sungguh, ketika hari yudisium kala itu, saya sudah mendaftarkan diri sebagai mahasiswa pascasarjana non-reguler. Bapak saya meminta saya untuk sekolah kembali. Kalian tahu? Biaya kuliah non-reguler itu 2 kali lipat daripada kuliah reguler. Saya yang pada dasarnya menurut perintah orang tua, mengikut saja. Disaat teman-teman yang lain menyarankan untuk kuliah di Jawa saja, saya tetap memilih almamater ini sebagai tempat saya menuntut ilmu. Bukan karena tanpa alasan. Pertama, karena saya adalah anak paling tua di rumah saat ini, kakak-kakak saya sudah tidak tinggal di Makassar. Kedua, saya ingin menjaga kedua orang tua saya. Sebisa mungkin saya akan menemani mereka selama saya masih kuliah. Ketiga, saya bisa mencari kerja, tidak menyusahkan orang tua dengan meminta uang untuk sewa kos dan uang makan..hehehe. Demikian pertimbangan saya saat itu. Ketika tes masuk, salah seorang teman saya berkata bahwa nilai masuk saya yang paling tinggi, Psikotes dan TOEFL. Dengan hati berbunga-bunga saya memberi tahu ke bapak dan mama. Bapak pun telah menyiapkan sejumlah uang untuk pembayaran SPP. Keesokan harinya, saya bertanya kepada pengelola pascasarjana non-reguler untuk biaya per semesternya. Alangkah kagetnya saya dengan biaya yang sungguh sangat besar itu. Yaah..kira-kira seharga satu sepeda motor!! Saat itu saya mulai berpikir untuk mengundurkan diri. Dengan hati sedikit kusut, saya melapor ke bapak, kalau biayanya sangat besar. Bapak saya juga kaget, kenapa biayanya sampai melonjak seperti itu. Yah..maklum lah, kalau baru pertama masuk kuliah, selalu ada biaya pembangunan, dan lain-lain. Saya tatap mata bapak, kelihatan ada guratan gundah dibenaknya. Saya pun mengerti, sangat mengerti. Esok pagi, saya sampaikan ke mama bahwa saya ingin cari kerja dulu, tidak usah kuliah dulu tahun ini. Tekad saya sudah sangat bulat. Saya tidak ingin menyusahkan bapak dan mama dengan biaya kuliah lagi. Makassar, 3 Februari 2012.

0 komentar:

Posting Komentar